Ketika Yesus semakin mendekati salib, setiap peristiwa—mulai dari pengurapan-Nya di Betania, pengkhianatan Yudas, sampai doa-Nya di Getsemani—menunjukkan bahwa rencana Allah berlangsung tepat menurut waktu-Nya. Bahkan ketika Dia “sangat sedih, seperti mau mati rasanya” (Mat. 26:38), Yesus tetap tunduk sepenuhnya kepada kehendak Bapa.
Bacaan
Matius 25–26
Refleksi
Bagaimana ketundukan Yesus dalam pasal-pasal ini menantang cara Anda mempercayai rencana Allah.
Yesus datang ke dunia untuk melakukan kehendak Allah, dan itu berarti Dia harus mempersembahkan tubuh-Nya sebagai korban. Tidak pernah sekalipun Dia melawan kehendak Bapa. Tidak pernah ada perebutan kuasa antara Bapa dan Anak—tidak ada pertarungan untuk memegang kendali—hanya penyerahan diri yang penuh dan sukacita.
Ada hari yang terlewat?
Lihat arsip bacaan harian
Hal untuk Direnungkan
Ayat kunci dan kebenaran apa yang Tuhan taruh di hati Anda hari ini?