Dalam Ayub 25–30, Bildad menekankan kebesaran Allah dan kecilnya manusia. Menanggapi hal itu, Ayub mengenang masa lalunya yang penuh kehormatan dan berkat, lalu membandingkannya dengan keadaannya sekarang—ditolak, dicemooh, dan terus-menerus menderita. Ia berdukacita melihat betapa drastis hidupnya berubah.
Bacaan
Ayub 25–30
Refleksi
Dalam pasal 28, Ayub menyadari bahwa manusia mampu menggali emas dan batu-batu berharga, tetapi hikmat sejati hanya ada pada Allah. Dalam hidup Anda, seberapa sering Anda mencari jawaban secara duniawi daripada datang kepada Tuhan untuk tuntunan? Bagaimana Anda dapat belajar semakin bersandar pada hikmat-Nya?
Sepanjang Alkitab kita menemukan banyak orang yang pandangannya tentang Allah berubah total setelah berjumpa dengan-Nya. Ayub dan Yesaya adalah dua di antaranya.
Ada hari yang terlewat?
Lihat arsip bacaan harian
Hal untuk Direnungkan
Ayat kunci dan kebenaran apa yang Tuhan taruh di hati Anda hari ini?